Categories
Uncategorized

Kondisi Perkebunan Terkini

Industri kelapa sawit nasional sering mendapat sorotan negatif dari kalangan mancanegara dan negeri sendiri. Lingkungan menjadi isu seksi untuk diembuskan. Awal bulan lalu parlemen Uni Eropa mewacanakan resolusi yang intinya menolak produk sawit Indonesia ke pasar mereka. Alasannya lagi-lagi karena proses produksinya dinilai merusak hutan dan tidak berkelanjutan. Dari dalam negeri pun tantangan terhadap industri penyumbang devisa terbesar ini tak kalah merepotkan. Dengan alasan mempertahankan kelestarian lingkungan, pemerintah ingin menerapkan moratorium pembukaan lahan buat sawit. Karena itulah banyak pihak menyerukan pemerintah lebih memilih langkah intensifikasi ketimbang ekstensifikasi dalam meningkatkan produksi sawit nasional. Salah satu caranya mendongkrak performa kebun sawit rakyat.

Kondisi Terkini

Menurut Bambang, Dirjen Perkebunan (Dirjenbun), Kementan, dari 11,91 juta ha perkebunan sawit nasional yang 4,65 juta ha adalah kebun rakyat. Dengan rata-rata produktivitas baru 3,22 ton/ha minyak mentah (crude palm oil-CPO), total produksinya sekitar 10,86 juta ton atau senilai Rp77,24 triliun. “Kebun rakyat ini pekerjaan rumah besar kita semua. Dengan dukungan perbankan, GAPKI, litbang, BPN, dan semua pihak, kita bisa tangkap potensi kehilangan hasil Rp125 triliun,” cetusnya. Lebih jauh Bambang merinci lima persoalan yang masih membebani kebun rakyat, yaitu legalitas lahan, kelembagaan petani, peremajaan, sarana prasarana, dan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Aspek legalitas termasuk problem yang paling utama, “Dari luasan kebun sawit rakyat itu, 1,25 juta ha bersertifikat, 1,75 juta ha belum ber sertifikat, dan hampir 1,7 juta ha terindikasi berada di kawasan hutan,” urainya dengan nada prihatin. Kelembagaan petani, lanjut pendiri Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera di Sultra ini, masih belum kuat. Tanpa legalitas lahan dan kelembagaan yang kuat, petani sulit mengakses pembiayaan dari perbankan. Masalah lain yang tidak kalah krusial adalah pembiayaan, khususnya bagi petani swadaya untuk melakukan peremajaan sawit. Petani swadaya harus mencari pembiayaan melalui investasi mandiri atau bemitra dengan perusahaan perkebunan. Ini pun tak mudah karena mereka harus membentuk kelompok supaya memudahkan kerja sama dengan calon perusahaan inti. Di lain pihak, kata Asmar Arsyad, Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), tak kurang dari 1,5 juta juta ha kebun rakyat perlu diremajakan sebab produktivitasnya rendah. Kondisi ini terjadi karena petani menanam benih asalan atau bukan benih unggul dan umur tanaman sudah tua, lebih dari 25 tahun. Tanaman tua layak diremajakan bila produksi tandan buah segar (TBS)-nya sekitar 10 ton/ha/tahun. Pada kebun petani plasma, peremajaan relatif lebih mudah dilaksanakan ketimbang kebun swadaya. Petani plasma umumnya mendapat edukasi dari perusahaan inti untuk menabung biaya peremajaan dengan menyisihkan sebagian penghasilan. Kalaupun ada kekurangan biaya, mereka bisa mendapatkan biaya dari perbankan dengan dukungan inti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *