Categories
Uncategorized

Laba Menjanjikan Bisnis Itik

Menurut L. Hardi Prasetyo, nara sumber Himpunan Peternak Ung gas Lokal Indonesia (Himpuli), dalam lima tahun terakhir permintaan terhadap daging itik semakin meningkat. Sementara, suplai unggas air ini belum memadai.

Belum ada data pasti kebutuhan itik. Namun sebagai gambaran, lanjut Hardi, informasi dari pelaku usaha, produksi bibit itik pedaging di Gunungsindur, Bogor, sebanyak 120 ribu ekor per bulan, itu harus antre kalau mau beli. Sementara produksi bibit itik petelur di Blitar sebanyak 100 ribu ekor per bulan, itu harus inden sampai Februari 2018.

“Di Indonesia beternak itik untuk diambil telurnya sudah biasa. Namun belakangan peminat daging itik yang mening kat terus setiap tahun, sekarang orang mulai melirik bisnis itik yang menjanjikan keuntungan. Sebagian besar produksi kita mengandalkan peternak tra disional. beberapa peternak mulai menggarap intensif. Karena itu, bisnisnya mulai berkembang,” papar Hardi pada ILDEX Indonesia 2017 di Jakarta, Kamis (19/10).

Peluang Bisnis Terbuka

Hardi menjelaskan, proses produksi itik dari hulu ke hilir meliputi tiga aspek, yaitu penyediaan bibit, pakan, dan pengadaan telur tetas. Memelihara itik untuk mempro duksi bibit dapat menggunakan itik jenis petelur ataupun itik pedaging.

Kegiatan pembibitan bisa menghasilkan bibit dan telur tetas. Namun, usaha pembibitan memerlukan modal kuat karena waktunya relatif lama. Pemeliharaan induknya saja selama 5 bulan. “Kalau masuk ke bisnis pembibitan perlu upaya per baikan kualitas bibit secara berkelanjutan dan ikuti selera konsumen,” ucapnya. Upaya per baikan kualitas bibit perlu dilakukan untuk efisiensi usa ha dan melayani kebutuhan konsumen yang berubah setiap 5-10 tahun.

Bisnis pembibitan bersifat jangka panjang agar menguntungkan. “Dua-tiga tahun pertama bisa balik modal sudah bagus,” tambahnya. Saat ini sudah ada beberapa perusahaan swasta yang melakukan pembibitan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Ada juga peternak pembibitan di wilayah Indramayu dan Cirebon, Jawa Barat.

“Peternak pembibit juga bisa bekerja sama dengan pembibit swasta sambil memperbaiki terus kualitasnya. Jadi, peluang bisnis itu ada,” imbuh pensiunan peneliti itik dari Balai Penelitian Ternak Ciawi itu. Sedangkan bidang usaha budidaya dibagi menjadi itik potong dan petelur. Menurut Hardi, itik potong sangat populer.

Semua orang berminat dalam bidang usaha ini karena memelihara itik potong cukup mudah, 40-50 hari bisa panen. “Empat-lima tahun lalu itik potong sudah mulai populer tapi ke mana beli bibitnya? Sulit sekali,” katanya. Sementara, itik petelur pemeliharaannya lebih sulit karena itik belum jinak 100% sehingga mudah stres.

Fase itik petelur terbagi tiga tahap, yaitu anak itik umur 0-8 minggu, 8 minggu – 5 bulan itik dara, itik penghasil telur sampai 3 bulan berikutnya. “Ini harus kita ketahui secara jelas karena beda teorinya, bukan hanya beda cara pemberian pakan dan jenis pakan. Kita semua tahu sebagian biaya produksi ‘kan pakan,” Hardi mewanti-wanti. Pada masa anak itik, pakan harus bagus, yaitu mengandung protein berkualitas dan tinggi kalori.

Pemberian pakan itik dara petelur harus direm agar tidak gemuk. “Jika makin gemuk, saluran produksinya digenjot sehingga akan bertelur sebelum waktunya. Kalau digenjot cepat besar, lemak akhirnya yang terbentuk. Saluran reproduksinya lama-lama akan terbungkus lemak.

Jadi, itik dara ini butuh protein, energi diturunkan sehingga baru bertelur sekitar 4,5-5 bulan tergantung jenisnya. Setelah itu pakan dinaikkan lagi karena harus produksi telur,” urai dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *